Loading...

Donor ASI? Perhatikan Ketentuannya

Sponsored Links
.
Loading...

Donor ASI? Perhatikan Ketentuannya

Image result for Ragam Penyakit Ibu dan Proses Menyusui

Dasar Hukum Tentang Donor ASI

Donor ASI adalah praktek yang mulai lazim dilakukan di Indonesia. Peraturan pemerintah (PP) Nomor 32 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif sebenarnya telah menetapkan
persyaratan-persyaratan khusus untuk para pendonor dan penerima donor ASI, yaitu: 
PERTAMA, Donor ASI dilakukan sesuai permintaan ibu kandung atau keluarga bayi yang bersangkutan. KEDUA, Identitas, agama dan alamat pendonor ASI diketahui jelas oleh ibu kandung atau keluarga bayi penerima ASI donor. KETIGA, mendapat persetujuan pendonor ASI setelah mengetahui identitas bayi yang diberi ASI. KEEMPAT, Pendonor ASI dalam kondisi kesehatan baik dan tidak mempunyai indikasi medis. KELIMA, ASI tidak diperjualbelikan

Namun, sebelum ada institusi yang mengatur proses donor ASI ini di Indonesia, sebaiknya calon pendonor dan orang tua bayi yang memerlukan donor ASI memahami benar tentang tata cara donor ASI secara lebih mendetail.


Kapan sebetulnya bayi memerlukan donor ASI?

Bayi memerlukan donor ASI dalam kondisi-kondisi sebagai berikut:
  1. Berat badan bayi saat lahir sangat rendah (kurang dari 1500 gram) atau usia kehamilan kurang dari 32 minggu
  2. Bayi beresiko karena mengalami gangguan metabolik atau peningkatan kebutuhan glukosa (kecil masa kehamilan, premature, mengalami stress hipoksik/iskemik/bayi sakit, bayi dengan ibu yang menderita diabetes) jika kadar gula darahnya gagal merespon pemberian ASI
  3. Bayi dengan kondisi kehilangan cairan akut, misalnya karena fototerapi atau penyinaran untuk bayi jaundice/kuning dan menyusui serta memerah ASI belum bisa mengimbangi kebutuhan cairan
  4. Turunnya berat badan bayi berkisar 7-10% setelah hari ketiga sampai kelima karena terlambatnya laktogenesis
  5. BAB bayi masih berupa mekonium pada hari kelima pasca persalinan

Siapa yang Boleh Menjadi Donor ASI?

Sebetulnya tidak semua ibu menyusui boleh menjadi pendonor ASI. Meskipun ASI memang yang terbaik bagi bayi, kita tidak bisa menutup mata terhadap kemungkinan ASI terpengaruh dengan penyakit yang diderita atau gaya hidup pendonor ASI. Apalagi sebagian besar penerima ASI donor adalah bayi baru lahir, bayi prematur atau bahkan bayi sakit.


Idealnya, seorang pendonor ASI harus melalui proses skrining kesehatan terlebih dahulu.
Proses skrining seharusnya dilakukan dalam 2 tahap. Tahap pertama adalah pemeriksaan lisan berupa pertanyaan seputar riwayat kesehatan pendonor. Tahap kedua berupa pemeriksaan medis untuk mendeteksi adanya virus yang berbahaya. Skrining medis yang dilakukan biasanya adalah tes HIV-1 dan HIV-2, HTLV-I dan HTLV-II, Hepatitis B, Hepatitis C, dan sifilis. Setelah menjalani skrining, barulah pendonor diperkenankan mendonorkan ASI.

Biasanya ibu yang diperbolehkan mendonor minimal menghasilkan ASI 2 - 3 liter per hari, jadi tidak semua ibu boleh donor. Skrining terhadap donor juga dilakukan 3 bulan sekali. Setelah 6 bulan, pendonor tidak direkomendasikan lagi karena ASI yang dihasilkan mulai sedikit.

Berikut ini adalah kategori ibu yang TIDAK DISARANKAN MENDONORKAN ASINYA:

  1. Menerima donor darah atau produk darah lainnya dalam 12 bulan terakhir
  2. Menerima transplantasi organ/jaringan dalam 12 bulan terakhir
  3. Minum alkohol secara rutin sebanyak 2 ounces atau lebih dalam periode 24 jam
  4. Pengguna rutin obat-obatan Over the Counter (aspirin, acetaminophen, dll), pengobatan sistemik lainnya (pengguna kontrasepsi atau hormon pengganti tertentu masih dimungkinkan)
  5. Pengguna vitamin megadosis atau obat-obatan herbal
  6. Pengguna produk tembakau
  7. Memakai implan silikon pada payudara
  8. Vegetarian total yang tidak memakai suplementasi vitamin B12
  9. Penyalah guna obat-obatan terlarang
10.  Riwayat Hepatitis, gangguan sistemik lainnya atau infeksi kronis (contohnya: HIV, HTLV, sifilis, CMV – pada bayi prematur)
11.  Beresiko HIV (pasangan HIV positif, mempunyai tato/body piercing)
12.  Tidak kecanduan kafein/kopi (toleransi 150-200 ml/hari)

Ibu-ibu yang mengkonsumsi obat-obatan berikut masih BOLEH MENDONORKAN ASINYA:

  • pil KB progesteron

  • salbutamol dan steroid inhaler untuk penderita asma

  • antihistamin topikal (mata dan hidung)

  • suplemen zat besi

  • paracetamol hanya jika ada indikasi


Sedangkan bagi orang tua yang memutuskan menerima ASI donor ada baiknya mempertimbangkan hal-hal di bawah ini:

  • Bagaimana kondisi kesehatan ibu/pendonor? → pola makan terkait religi/keyakinan
  • Apakah uji serologis ibu terhadap HIV, Hepatitis B, HTLV negatif?
  • Apakah ASI tidak tercemar obat, nikotin, alkohol, dsb?
  • Apakah ASI tidak tercampur air, bahan/zat/nutrisi lain?
  • Apakah ASI diperah dan disimpan secara higienis dan tidak terkontaminasi?
  • Apakah jangka waktu penyimpanan dan tempat penyimpanannya sesuai?
  • Bagaimana kondisi bayi ibu/pendonor? → usia bayi pendonor


Menyiapkan ASI Donor
Jika pada akhirnya diputuskan menggunakan ASI donor yang belum dipasteurisasi, ada 3 teknik perlakuan terhadap ASI yang bisa dilakukan yang biasa mengurangi penularan penyakit (terutama HIV) melalui ASI.
  1. Pasteurisasi Holder
ASI dipanaskan dalam wadah kaca tertutup di suhu 62,5˚C selama 30 menit. Biasanya dilakukan di Bank ASI karena membutuhkan pengukur suhu dan pengukur waktu.
  1. Teknik Flash Heating
ASI sebanyak 50 ml ditaruh dalam botol kaca/botol selai ukuran sktr 450 ml terbuka di dalam panci alumunium berukuran 1 L berisi 450 ml air. Kemudian panci dipanaskan di atas kompor sampai air mendidih, matikan, kemudian botol kaca berisi ASI diangkat dan didiamkan sampai suhunya siap untuk diminum bayi.
  1. Pasteurisasi Pretoria
Panaskan air sebanyak 450 ml di panci alumunium berukuran 1 L sampai mendidih. Matikan kompor. Letakkan botol kaca terbuka yang berisi ASI sebanyak 50ml di dalam panci selama 20 menit. Kemudian angkat dan diamkan sampai suhu ASI siap diminum bayi.
Yang paling mungkin dilakukan adalah teknik nomor 2 dan 3. Manapun, pilih yang paling nyaman bagi ibu dan keluarga. Jika donor ASI dilakukan karena bayi sakit di Rumah Sakit, ingatkan perawat untuk melakukan pemanasan ini sebelum memberikan ASI donor kepada bayi anda.

SUMBER:
Artikel dr. Astri Pramarini dalam http://aimi-asi.org/donor-asi-kapan-dan-bagaimana/
http://health.detik.com/read/2012/08/01/175638/1980717/763/ini-syarat-syarat-untuk-jadi-donor-asi
Buku Catatan Ayah ASI: Kami Bukan Ahli, Cuma Mau Berbagi, halaman: 162-165
Sponsored Links
Loading...
Loading...
Related Posts